SNMPTN UNDIAN?! I'm The Lucky One

/ Sabtu, 26 Mei 2012 /
 お久し振りですね!Did you miss me ?! hahaa just kidding :p, so here is my post !








Alhamdulillah. Mungkin sudah lebih dari ke-1000 kali nya saya mengucapkan kata ini. Yah hari ini tanggal 26 MEI 2012 adalah titik balik saya dari seorang siswa sekolah mengengah atas menjadi seorang mahasiswa yang mengemban tanggung jawab lebih besar untuk belajar sesuatu yg bisa di aplikasikan ke masyarakat demi kemajuan bangsa.  Yah, sesuai post saya sebelumnya pilihan saya memang tertuju pada Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Hari ini saya mendapatkannya dengan jalur tercepat yang bisa didapatkan, sekaligus jalur dengan penilaian yang hanya berdasarkan nilai rapot semester 3,4,5 saja, yak jalur undangan.  Sebetulnya saya agak kurang setuju dengan jalur yang satu ini walaupun pada hari ini saya di untungkan dengan jalur itu, ya karena siswa yang sudah yakin akan mendapatkannya cenderung hilang motivasi untuk belajar jika dia sudah mengetahui peringkat undangan di sekolahnya, ini juga terjadi pada beberapa teman saya. Juga tentang fakta bahwa seperti adanya dongkrakan nilai dari guru semua mata pelajaran untuk beberapa siswa, dalam artian semua siswa di semester 5 sepengamatan saya akan lebih mudah mendapatkan nilai yg signifikan tinggi dibanding dengan semester sebelumnya jika dia menjaga hubungan baik dengan gurunya, yah memang seperti tidak ada yang salah sih tapi anda akan merasa ganjil kalau menjalaninya.


Tapi seperti yg saya sering bilang sebelumnya, saya jujur tidak puas sampai saya mendapat yang betul betul saya inginkan. Sekolah di Jepang adalah impian utama saya !!.


Sudah lama saya tidak posting disini, yah karena kesibukan saya yang tidak bisa di tolerir tentu nya, terutama kesibukan saya dalam memperdalam makna sebuah kegagalan yang datang nya ber tubi tubi. Biar saya ceritakan dengan gambalang, bahwa saya gagal di Tes NTU yang diadakan pertengahan Februari, yah memang tahun ini sangat sedikit sekali kalau dibanding tahun lalu, tapi tetap saja saya menyesali nya walaupun akhir nya saya bisa belajar sedikit dari kegagalan saya itu. Saya belajar terutama tentang cara meng-organisir diri sendiri. Jujur saya sebelumnya adalah orang yang sangat sulit untuk berkomitmen pada jadwal yang telah saya buat sendiri. Bulan Januari lalu saya membuar jadwal yang seakan akan saya sendiri sudah tau kalau saya tidak bisa menyanggupinya 100%, tapi waktu itu saya telah berkomitmen bahwa setidaknya 50 % nya akan saya laksanakan. Tapi nyatanya banyak waktu yg terbuang untuk sesuatu yg saya anggap bisa saya lakukan nanti nanti, contohnya: Nonton film kesukaan. Yah karena hal itu juga waktu saya banyak yg terbuang sia2. Tapi tidak dengan sekarang, saya menyadari kalau dalam suatu perencanaan kita juga harus mengerti segala aspek dari sesuatu yang kita atur. Contoh nya untuk seorang bos disuatu persahaan mutlak pentingnya untuk mengetahui kemampuan bawahannya. Seperti itulah saya sekarang, telah berusaha mempelajari semua potensi yang dimiliki yang nantinya akan saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk perkembangan pribadi. Juga dengan cara itu saya bisa meng-organisir diri saya dengan cara yang lebih manusiawi. :D, yah intinya dengan kegagalan saya pasti akan mempelajari sesuatu. Tapi tidak semua kegagalan bisa dipetik suatu pelajaran, tapi kegagalan yang sebelumnya saya sudah usahakan dengan sepenuh kekuatan yang akan memberikan pelajaran terbaik pada saya, yah inilah kehidupan. Kehidupan siswa kelas 3 SMA yang terombang ambing arus ketidak pastian, yaitu masa depan.


---------------------------------------


Out of topic, besok saya akan melaksanakan tes awal untuk beasiswa mitsui-bussan. Program beasiswa ke Jepang yang dari dulu saya impikan.


Sebelum tes besok tadi saya menyempatkan pergi ke panti pijat tuna netra untuk menyegarkan pikiran, guna memaksimalkan usaha di hari H. 


yah intinya, doakan saya untuk besok ya teman2 ! :D
 頑張って下さい !!!

Introduce you !!
Mr. Gane-san !

Yue Xia Lao Ren: The Old Man Under the Moon - Chinese Mythology

/ Jumat, 02 Maret 2012 /


The origin of the “red thread of fate/destiny”. This story began circulating sometime around the Tang dynasty (618 - 907).

Wei Gu’s parents died when he was still very young. He was eager to find a girl and get married, but never succeeded. One day he travelled to Song City and stayed in a hostel. Knowing Wei Gu’s story, another guest from the hostel tried to make arrangements for Wei to meet a girl from a nearby village. They booked a meeting in Longxing temple near the hostel for the next morning.  

Wei Gu was so eager to meet the girl that he arrived before dawn when it was still dark. When he reached the temple he saw an old man sitting on the ground in the moonlight, with a large sack behind him, reading a large, thick book. Wei Gu got close and looked at the book, but could not understand any words. 

Wei Gu was curious and asked, “Excuse me, what kind of book you are reading? I have studied very hard and I can read many languages. I can even read Sanskrit from India! But how come I cannot understand the words in your book? Why is that?”  

The old man laughed, “This is not the book for this mundane world; how could you have had a chance to read it?”  

“What kind of book is it then?” Wei Gu asked.  

“The book of the nether world,” the old man answered.  

Wei Gu questioned, “How come a person from the nether world comes to this world?”  

The old man replied, “It is not that a matter of me being here, but you meet me because you were out of town too early. The officials in the nether world have things to organise for human beings here; they of course need to come here often.”  

Wei Gu asked, “Well, what type of things do you control?”  

“The book that records all men and women’s marriages,” replied the old man.  

Wei Gu was happy hearing this asked again, “I will meet a girl here today. Will I succeed?”  

The old man replied, “Your turn has not yet come. Your future wife is only 3 years old, and will be your wife when she is 17 years old.”  

Wei Gu was so upset and asked casually, “What’s in your sack?”  

“Red strings. Those red strings are used for tying husbands’ and wives’ feet. No matter male or female - whether both sides are enemies, or have grown far away from each other; poor or rich, or from different countries - so long as I tie these red strings on their feet they will become husbands and wives. Your feet are already tied with that one; there is no use chasing another person.”  

Wei Gu enquired, “Well, where is my wife? How does her family make a living?”  

“She is the daughter of Mrs. Chen on the north side of the city”, the old man replied.  

“Could I have a look first?” Wei Gu asked.  

“Mrs. Chen often carries her here to sell vegetables; if you follow me, I will point her for you, ” said the old man.  

Morning had broken, and the girl Wei Gu was originally waiting for did not show up. The old man stood up carrying his book and sack walked toward the market. Wei Gu followed him closely. When they arrived at the market they saw a woman who was blind in one eye holding an ugly looking little girl dressed in shreds and tatters and walked toward them.  

The old man then told Wei Gu, “that little girl in the woman’s arms will be your future wife.”  
Wei Gu was very angry and asked the old man, “What if I kill her?” 

The old man shook his head, “She is destined to marry you. How can you kill her?”, and then he disappeared.

Wei Gu returned to the hostel, sharpened a knife and gave it to his servant saying, “You should do a neat job! Once you kill her, I will reward you with ten thousand Guan (ancient name for Chinese money).”  

The next day his servant went to the market with the knife. He hid in the crowd and found a chance to stab the girl. The people around were screaming and running. The whole market was turned into chaos. The servant used the commotion to run back and report to his master,

 “I was planning to stab the girl in her heart but only touched her forehead between the eyebrows.” Wei Gu then gave up the plan. He continued to find his wife, but still with no good luck.  

Fourteen years later, Wei Gu was appointed as general of Xiangzhou. Wang Tai, the governor of Xiangzhou, gave Wei Gu his daughter in marriage. The bride was a beautiful young lady. Wei Gu was very satisfied and got married. His wife was good to him in every way except one that Wei Gu found quite strange: His wife always wore a flower decoration on her forehead, between the eyebrows, even when she was washing her face she was unwilling to take it off. Wei Gu finally asked his wife the purpose of the decoration.  

She cried and replied, “I am an adopted daughter; governor Wang Tai is my uncle. My father died right after I was born, and my mother and brother also died very early. The family soon went downwards. I was raised by my nannie, Mrs. Chen who always carried me to sell vegetables at the market. One day fourteen years ago a mob stabbed me at the market with no obvious reason. Ever since then there was a scar left on my forehead between the eyebrows. Several years ago, my uncle was promoted as governor of Xiangzhou. I came to this town to live with him. Now he has married me to you.”  

Upon hearing this, Wei Gu finally believed what the old man had said.

Because nobody knows the old man’s name, people just call him ‘the old man in the moonlight’ or ‘Yue Xia Lao Ren’ in Chinese. In order to honor him people set up his statues in the temples. Even today, men and women still go to the temple to ask help from him for finding their predetermined lovers.


Red Thread of Destiny

/ /

"God Tied you and I together by your little finger with a long red string. This bond of destiny cannot be seen and there is no map to it. So I will fall in love with you when I meet you."

Rehat Sejenak dan Tetukan

/ Rabu, 29 Februari 2012 /




Udah lama gak berkunjung kesini. Saya sekarang udah kelas tiga. Banyak tes tes yang harus saya persiapkan pastinya. Sejujurnya saya agak gerah sama tekanan yang mengharuskan saya keluar dari comfort zone saya, sejujurnya saya adalah orang yang gapernah ambil pusing sama suatu permasalahan, begitu juga saat saya menjalani masa SMA di sekolah yang menurut orang-orang muridnya itu setiap hari belajar sampe gak ada waktu buat bermain. Dengan lega mungkin saya bisa bilang "nggak juga", mungkin bisa dibilang gak semua dari kami yang seperti itu walaupun mungkin ada, tapi kalaupun begitu nggak menutup kemungkinan kalau disekolah lain juga pasti ada anak anak yang kayak gitu. Saya cuman pernah ngerasain seriusnya belajar ketika saya kelas satu SMA, saat saya beradaptasi sama orang orang nya, yang saya kira mereka itu jenius jenius, soalnya kalo diliat hanya dari nilai UN, nilai saya itu kalah sangat jauh, jadi mau gamau saya harus belajar keras. Tapi ternyata penilaian saya salah, gasemua dari mereka mencerminkan intelektual tinggi seperti hasil UN mereka seperti yang saya bayang bayangkan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang punya masalah dengan sekolah (brandalan) dihari pertama masuk sekolah, padahal mereka memiliki hasil UN tinggi. Ya, memang nilai bukan penentu segalanya sih, tapi menurut saya nilai pasti bisa mencerminkan sedikit bagaimana gambaran si peraih, tapi saya hampir tidak menemukannya pada anak anak yang sudah bermasalah dihari pertamanya masuk sekolah itu bahkan sampai sekarang pun masih belum, dari pribadi maupun prestasi. Terus setelah itu saya jadi gapernah serius belajar lagi,  karena saya berfikir saya leha leha aja bisa dapat minimal nilai 80 disekolah ini, jadi buat apa cape cape belajar, lagi pula saya bukan tipe orang yang terobsesi sama nilai 'paling' bagus, dari dulu saya hanya mendambakan kalau nilai saya bisa diatas rata-rata itu sudah baik menurut saya. Saya lebih suka menghabiskan waktu saya untuk menjalankan hobi saya, yaitu nonton film ketimbang belajar mati-matian demi dapat ranking satu. Saya nulis gini bukan karena ingin men-cover diri saya yang memang gapernah dapet ranking satu dari zaman saya SD sampe SMA tapi emang saya gapernah minat untuk cari nilai sangat bagus sampe sampe ngorbanin banyak waktu. Dan dari situ saya menyimpulkan kalau saya punya kemampuan (entah bisa dibilang kelebihan atau kekurangan sih) yaitu untuk beradaptasi (dalam bidang akademis) pada peringkat yang nggak jauh jauh dari peringkat 5-10 disetiap sekolah. Jujur saat saya pindah ke-sekolah yang lebih baik di tahun kedua SMA, saya juga ga banyak melakukan adaptasi dalam belajar (padahal kalo dipikir pikir memang sih sekolah ini jauh lebih sulit ketimbang sekolah sebelumnya, dalam hal persaingan maupun materi yang diujikan), padahal kalau dilihat lihat SMA pada saat saya kelas satu dan kelas 2 peringkatnya Regionalnya rada beda jauh. Tapi dengan style belajar saya yang gamau susah barulah saya menyadari kemampuan saya yang itu kalau saya bisa beradaptasi walaupun disekolah yang persaingannya ketat sekalipun. Bahkan saya mendapat peringkat terbaik saya pada masa ini, saya mendapat peringkat 5 kelas dan 25 se-angkatan dari 360-an orang, padahal sejujurnya saya gapernah serius untuk belajar mati matian sampe begadang sekalipun (satu satunya  mungkin, pernah hampir begadang, tidur jam 2 waktu saya mau UTS biologi jaman jaman setelah saya OSN), satu-satunya alasan saya begadang adalah kalo saya lagi penasaran banget sama suatu film berseri yang biasa saya tonton habis pulang sekolah (kalo ini beneran begadang). Saya bukan mau bilang saya jenius atau apa, tapi saya cuman mau bilang kalau kemampuan adaptasi saya yang mungkin bisa saya banggakan. Toh disekolah yang menurut orang orang gak bagus bagus banget pun (SD saya) saya gabakal bisa dapet ranking satu, mentok mentok paling ranking 7. Jadi bisa dibedakan mana yang jenius mana yang cuman mengandalkan kemampuan beradaptasi hehe.
Dan akhirnya pada kelas tiga ini saya masih santai santai, meskipun pada saat saat genting ini. Tapi saya akhirnya 'sedikit' sadar kalo mau sukses itu kita gaboleh di dalam comfort zone kita terus, dan parahnya saya sadar ketika tes yang penting menurut saya telah selesai saya laksanakan tapi bukan penyesalan namanya kalau datangnya gak diakhir akhir. Maka dari itu saya dari orang yang suka bersantai santai mungkin akan merubah kepribadian saya sebentar dalam selang waktu 3 bulan, dari bulan Maret (2012) sampai Juni(2012) karena pada bulan bulan itu banyak ujian ujian yang akan saya laksanakan. Dan pastinya sangat menentukan masa depan saya.


Oiya mumpum ini hari terakhir saya buat berlangganan internet sebelum 3 bulan kedepan saya meminta orang tua saya untuk mencabut jaringan internet dirumah saya, saya mau curhat sedikit lebih banyak lagi, terutama tentang jurusan yang akan saya ambil. Sejujurnya saya dari kelas 1 SMP sudah tertarik dengan hal hal yang berbau Jepang, oleh karena itu saya menetapkan untuk masuk jurusan yang saya sukai itu, tapi yah pasti ada yang kontra dengan rencana saya ini, siapa lagi kalau bukan orang tua saya yang memandang jurusan ini sebelah mata, karena prospek kerjanya yang tidak menjanjikan dan menganggap saya akan membuang-buang kemampuan yang sudah saya asah demikian tajam sampai saat ini dibidang ke-Ilmu Pasti-an. Yah menurut saya sih saya gak bakal tau jurusan Sastra Jepang kalau saya gak belajar banyak, singkatnya belajar menurut saya itu seperti alat untuk meng-explore banyak hal yang nantinya akan kita ambil serius buat masa depan kita. Dengan alat peng-explore itu kita jadi bisa tau apa yang benar-benar kita inginkan. Itulah definisi belajar menurut saya, karena itulah saya gapernah nyesel kalo dapet pelajaran yang banyak orang pikir gak ada hubungannya sama masa depan hehe. Walaupun kadang saya suka kesel sama suatu pelajaran, tapi sebenernya saya cuman kesulitan memahaminya bukan karena saya berpikir gaada hubungannya sama masa depan, contoh: Bahasa Jerman hehe. Tapi saya akhir akhir ini juga terus berpikir, saya menyebutnya betapa :), saya dua minggu yang lalu selama satu minggu absen dari sekolah, dirumah kerjaannya tidur, browsing jurusan, sama mikir apa yang terjadi kalau saya milih jurusan ini kedepannya. Dan di akhir penggalauan saya, saya nangis dikamar, mungkin ini nangis pertama saya kali di kelas Tiga (soalnya saya itu teramat sangat jarang nangis), soalnya pertama kalinya juga buat saya mikir kedepan separah ini, sebelumnya saya adalah orang yang mementingkan apa yang akan terjadi setelah ini/besok. Bahkan diakhir penggalauan saya pun saya masih belum fix menentukan, karena saya merasa saya suka banget sama jurusan Sastra Jepang, bahkan saya sebelumnya udah berusaha sok kenal sama Mahasiswi dari sastra jepang UI buat nanya nanya di FB hehe. Saya tanyain apa yang mereka pelajari di Jurusan itu, bukannya pesimis, tapi makin membuat saya antusias makin mau masuk sana, pernah saya rencana mau minjem buku di Perpus UI ttg buku yang ada hubungannnya sama yang akan dipelajari di Sastra Jepang, tapi ternyata harus pupus karena kalau mau minjem buku harus jadi Mahasiswa UI dulu -_-. Lalu pilihan kedua saya adalah teknik, Perminyakan dan Elektro. Kalau ini saya memandangnya seperti pelajaran sekolah, biasa saja, gaada yang buat saya tertarik sama dua jurusan teknik itu kecuali menjanjikan masa depan. Saya bukan gak suka bukan juga suka sama dua jurusan itu. Jadi biasa aja. Nothing special. Tapi diakhir saya harus ngalah sama sastra Jepang dan harus memberikan pilihan Undangan saya pada 2 jurusan diatas, kalau nggak Elektro ya Perminyakan. Jadi saya dua hari yang lalu mengisikan 2 Fakultas untuk pilihan pertama yaitu ITB : 1. STEI. 2. FTTM. dan baru pilihan kedua UI : 1. Teknik Elektro 2. Sastra Jepang. hehee, tapi yahh (bukannya sombong)  kalau tahun lalu sekolah saya menyumbang 10 orang peringkat teratas yang memilih STEI untuk masuk kedalamnya, dan tahun ini kalau nggak sial, saya masih masuk dalam 10 orang itu, yah berdoa saja supaya gausah ngambil SNMPTN Tertulis. Dan saya memasukan Sastra Jepang disitu hanya sebagai bukti kalau saya pernah suka sama Sastra Jepang hehee. Jadi ya, satu satunya jalan biar saya tetep bisa berhubungan sama sesuatu berbau Jepang, saya harus ikut program beasiswa kesana. Tapi yang saya takut adalah bahwa 1. Sulitnya persaingan karena sangat seditnya program yang menawarkan undergraduate seperti kami 2. Banyakan S1 yang saya tau mendapat beasiswa tapi hanya mendapat universitas yang menurut saya kurang terpandang di Jepang itu sendiri, tapi lain halnya dengan Research Student (S2) yang selain banyak program yang ditawarkan, kebanyakan dari mereka masuk ke Universitas prestisius di Jepang. Jadi kesimpulannya saya berusaha cari jurusan yang paling banyak diterima di kalangan kerja Jepang, dengan rencana itu saya akan melanjutkan studi saya ke Jepang untuk S2 dan mencari pekerjaan disana. Lalu tinggal disana and Happily ever after hahaha. 


Yah kesimpulannya saya akan serius 3 bulan kedepan ini, dan saya sudah menetapkan untuk ngambil STEI ITB jalur Undangan. Dan kalau kalau saya beruntung bisa dapet full scholarship. :D


Itulah rencana saya 3 bulan kedepan.


Pesan dari guru saya, setelah lama saya curhat dengan beliau yang intinya  : "Intinya kita harus tau apa yg jadi comfort zone kita, dari situ kita bisa tentukan harus kemana kita selanjutnya, jangan mau termakan oleh mimpi monyet (mimpi yg sifatnya sementara)" -R.S.B
Akhir kata, Selamat tanggal 29 Februari semuanya :).










::mohon maaf karena gaya bahasa saya yang berganti ganti, karena sudah lama gak ngeblog jadi kebingungan cara menulis yang benar :D.

Cara menghafal dengan baik ! [1] : Si-pendongeng

/ Minggu, 02 Oktober 2011 /


Halo teman teman yang saya cintai dan saya banggakan yang mau susah susah baca blog ini. Dan mungkin andalah satu satunya yang baca blog ini.
Pada artikel kali ini saya akan menulis dengan bahasa seformal mungkin dan semuanya dalam bahasa Indonesia, juga saya berusaha membuat artikel ini sepadat mungkin karena mood saya yang mudah naik turun kalau sedang menulis jadi malas kalau menulis panjang. Tujuan  membuat artikel ini tidak lain adalah ingin mencoba coba gaya penulisan yang berbeda dari biasanya.
Artikel kali ini berkaitan dengan tulisan yang baru saja saya baca dari : Brain Function mengenai sesuatu yang sebenarnya sudah kita ketahui sejak dulu. Yaitu fakta bahwa otak kanan adalah otak yang dipergunakan manusia untuk berfikir hal hal yang berkaitan dengan imajinasi dan juga sesuatu yang bisa mengingat sesuatu dalam jangka panjang. Yang ingin saya bahas disini adalah bagaimana menggunakan otak kanan kita sebagai media penyimpan informasi.
1.Teknik “Si-pendongeng” 

Teknik menghafal dengan mengganggap data yang kita hafal sebagai suatu benda hidup/mati yang dapat bergerak dan berperan sebagai suatu tokoh pada imajinasi kita.'
Contoh bagaimana kita menghafal :
Harimau-Mobil-Meja-Nasi-Pesawat-Komputer-Buku-Kipas angin-Jam-Rokok
Mouse-Papan tulis-Lampu-Bola-Jaket-Sepatu-Dompet-Tas-Kucing-Kertas
Pipa-Sabuk-Pohon-Jeruk-Handphone-Piano-Laut-Topi-Pena-Brownies
Dalam waktu 3 menit. Jujur saya menghafal kata kata diatas juga hanya membutuhkan waktu 3 menit kurang saja dengan metode yang satu ini dan saya masih hafal sampai sekarang walaupun sudah 2 hari yang lalu saya menghafalkannya. Metode lama saya adalah menghafal setiap awal kata lalu merubahnya menjadi suatu kalimat unik tertentu. Tapi mungkin itu membutuhkan waktu yang sedikit lama dari pada cara yang satu ini, walaupun itu juga merupakan terapan dari menghafal dengan menggunakan otak kanan.
~~~
Caranya adalah membayangkan sesuatunya bisa bergerak dan memiliki peran tersendiri.
Contoh : (Ini adalah imajinasi saya, mungkin setiap orang memiliki caranya yang unik karena memori setiap berbeda beda)

Harimau naik mobil diatas meja makan lalu menabrak bakul nasi, setelah itu pesawat datang menyelamatkan dengan komputer sebagai pengendara yang hobi membaca buku. Diluar ada kipas angin pesawat yang mirip jam dan mengeluarkan asap rokok.
Dan seterusnya untuk no.2 dan 3. Silahkan gunakan imajinasi anda sendiri.
:: Mungkin terlihat sulit tapi yang perlu kalian lakukan sebenarnya adalah membayangkannya dan menyimpannya sebagai suatu informasi unik di otak anda terserah bagaimana anda mengimajinasikannya. Saya yakin informasi itu akan tersimpan lama.
Terapan :
 Saya menggunakan teknik pada saat saya ingin menghafal istilah istilah pada buku PKN ataupun Biologi. Saya menuliskan istilahnya dan maksud serta kegunaan (biologi) dari istilah itu. Setelah itu saya imajinasikan datanya menjadi suatu yang memiliki peran dalam dongeng diotak saya sambil mengait-kait kannya dengan keterangan data itu.

Juga saya menggunakannya untuk menghafal rasi rasi di Astronomi yang masih saya anggap asing. Biasanya saya anggap mereka semua memiliki peran pada cerita saya. Karena cara ini sangat berguna untuk menghafal benda benda secara berurutan. Begitu juga letak rasi bintang yang sudah begitu adanya (berurutan).

Susah menjelaskan dengan kata kata karena akan terlihat aneh apabila saya menulis imajinasi saya yang mungkin belum tentu semua dari anda akan mengerti, karena imajinasi tergantung juga dari pengelaman yang kita miliki juga memori yang kita simpan.

Sekian.  Selamat berimajinasi !




----------------------------------------------------------
::Sori kalo rada maksa, namanya juga belajar jadi penulis formal :p. Kapan kapan gw juga bakal nyobain berbagai aliran menulis lainnya :D. Cheers!!

Greetings!!!

Follower

 
Copyright © 2010 Astronutmers, All rights reserved
Design by DZignine and Astronutmers. Powered by Blogger